Nasihat dari Penderita Cerebral Palsy
Aku dapat cerita menarik dari sahabatku, yang kutahu seorang gay tulen. sejak kukenal mulai awal kuliah hingga kini, ia adalah seorang gay yang mengklaim “tidak mungkin berhubungan dengan cewek”. “Tidak bisa ‘berdiri’” katanya. Ia mengaku sudah pernah mencoba segala hal
untuk bisa berhubungan dengan perempuan, termasuk menyewa pekerja seks seksi, namun semua itu gagal. Itu semua hanya untuk membuktikan ke dirinya sendiri, bahwa ia benar-benar gay “beneran”, setelah sejak SMP ia jatuh cinta untuk pertama kalinya ke guru laki-lakinya.
Sejak keyakinan itu tumbuh, mulailah ia melanglang buana dunia gay, berganti-ganti pasangan, atau mencoba menjalin hubungan tetap dengan seorang laki-laki yang dicintainya. Diantara sesama gay, ia dan teman-temannya saling memperkuat keyakinan itu, dan memperjuangkan
persamaan hak agar diakui ke orang-orang heteroseksual. Mereka, aku, temanku itu, selalu menyanggah peraturan Tuhan, dengan mempertanyakan “kenapa Tuhan menjadikan mereka seorang gay?”. Pertanyaan itu pula yang dari awal kesadarannya bahwa ia adalah
seorang homoseksual, dipertanyakannya.
Rupanya pertanyaan itu dijawab Tuhan belasan tahun kemudian, saat ia menjadi relawan sosial untuk orang-orang yang cacat, di sebuah panti. Saat itu ia menjadi akrab dengan seorang penderita cerebral palsy, yang harus menghabiskan hidupnya bersusah payah hanya untuk bisa
meraih sebuah gelas atau mengucapkan sepatah kata. Ia dibuang orang tuanya sejak orang tuanya mengetahui kecacatannya, dan sejak itu hingga usia 42 tahun, ia hidup di panti itu tanpa tahu dunia luar. Mereka dengan dunia yang berbeda, secara ajaib menjadi akrab, bahkan
temanku itu bisa cepat menangkap maksud pembicaraan sang penderita cerebral palsy.
Suatu saat ada pembicaraan menarik antar keduanya yang mengubah hidup temanku. Setelah temanku menceritakan bahwa ia gay dan kegundahannya, si teman cacatnya tiba-tiba tertawa, dan menyatakan kalau mereka ternyata sama-sama cacatnya!. Bila klaim cacat itu dilontarkan oleh mereka orang-orang “normal”, tentu temanku itu sangat tersinggung. Tapi kata-kata teman cerebral palsynya itu bukanlah menyinggungnya, malah bisa membuatnya merenung. Lalu temannya itu meminta temanku untuk menerima kecacatannya sebagai bentuk ujian Tuhan tanpa mempertanyakannya. Seperti ia yang tak lagi mempertanyakan kenapa Tuhan menciptakannya sebagai penderita cerebral palsy. Begitu ia menerima irinya apa adanya, ia mulai mampu mendoakan orang tua yang tak pernah dikenalnya, dan memaafkan mereka meski sampai saat ini tak pernah menjenguknya.
Beberapa bulan kemudian, setelah mengambil beberapa cuti panjang dari kantornya, temanku itu mengumumkan perpisahan dengan pacar laki-lakinya dan teman-temannya yang sebagian besar aktivis dunia homoseksual. Ia menyatakan telah menerima kecenderungannya sebagai
seorang homoseksual sebagai bentuk ujian Tuhan. Tidak, ia tidak akan mencoba berhubungan dengan perempuan, begitu ia menanggapi sindiran sinis teman gay nya, karena Tuhan juga melarang pernikahan bila tidak akan membawa berkat. Ia yakin, Tuhan penciptanya berkuasa
dan berhak sepenuhnya atas dirinya, sehingga berhak menentukan ujian dan larangan atasnya. Mulai saat itu, ia menerimanya dengan ikhlas.
Beberapa bulan kemudian, temanku itu pergi ibadah haji. “Memohon ampun atas segala kesalahan”, begitu katanya. “Jangan dikira gak berat bagiku, karena disana akan bertemu dengan banyak orang ganteng berbadan kekar” begitu ia menceritakan pengalamannya. Tapi perubahan itu, keteguhan hatinya dalam memilih, membuatnya patut diacungi 6
jempol !!!!!
Sumber: Nasihat dari Penderita Cerebral Palsy oleh Mira Permatasari

terima kasih atas nasehatnya - baca surat walasri - saya rasa kita sama - tapi apalah hidup ini bukan kah sama dengan sebuah mimpi yang akan habis pada waktu kita bangun atau - mati - semoga bangun kita atau mati kita nanti membawa sebuah mimpi yang lebih nyata dan indah
Comment by boyo — May 6, 2007 @ 7:27 am